Pernah dengar Big Brown Bag? Empat puluh dua tahun silam, Bloomingdale’s merilis sebuah logo typography, yang kemudian tertuang di dalam sebuah tas belanja. Sebuah tas yang berhasil ‘menyuarakan’ nama Bloomingdale’s, dan kini menjadi gaya hidup tersendiri di Big Apple; ada prestise yang muncul karena telah berbelanja di department store berslogan “Like no other store in the world”. Ya, hanya dari sebuah tas berdesain sederhana, mereka memasarkan namanya sampai ke tahap itu.

Hari berganti hari, offline marketing kian unik, trendi, dan tepat sasaran. Dengan tetap membagi sasarannya menjadi dua lini, B2B (business-to-business) dan B2C (business-to-consumer), ada saja ide kreatif dari para marketer untuk memasarkan brand lewat barang-barang yang dekat dengan keseharian calon konsumen. Dua di antaranya ialah tas dan kartu nama. Hmmm, bagaimana kedua ini bisa ‘bekerja’ sebagai medium iklan?
Bagvertising. Begitulah istilah ini muncul dengan meleburkan kata “bag” dan “advertising”. Bagvertising yakni teknik periklanan yang memanfaatkan tas sebagai media untuk penyebaran brand awareness. Tas, apapun itu jenisnya, adalah benda yang mudah disukai orang dan termasuk barang fashion yang fungsional. Simply, in the eye of advertiser, bags are mobile billboards.




Sementara itu, kartu nama menjadi entitas penting untuk mengiklankan usahamu melalui sektor B2B. Kalau yang ini bisa juga disebut business card advertising. Ya, kartu namamu kini bukanlah sebatas informasi yang menjawab “bagaimana saya bisa menghubungi Anda?”. Kartu nama adalah proyeksi dari image bisnis.
Keberhasilan dari business card advertising ini dipicu oleh beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain;
- Tanyakan pada diri sendiri, “Seperti apa karakter dari bisnis yang kita jalankan?”
- Jika pertanyaan di nomor satu sudah terjawab, pikirkan konsep desain. Ini mencakup warna, typeface, dan kertas yang dipilih.
- Mulailah memilah-milah, mana informasi yang perlu tertuang di kartu nama dan mana yang tidak.
- Terakhir, tak kalah penting, berikan kartu namamu hanya pada orang yang tepat.



Saat business card advertising ini berhasil, sebuah brand A tentu tidak hanya akan menempel di dalam business card holder saja; ia akan terus lekat di dalam benak orang lain dalam waktu yang lama. So, never underestimate the value of your business card. Your business card is advertising, and deciding who to give the card to is marketing.
Itulah bagaimana pemasaran B2B dan B2C berjalan serempak melalui jalur cutting-edge marketing, dengan ‘hanya’ memakai tas dan kartu nama. Siapkah kamu memanfaatkan keduanya untuk strategi brand awareness-mu yang lebih unik dan ciamik?