Pentingnya Membangun Corporate Culture

Rutinitas bekerja setiap hari memungkinkan hadirnya rasa bosan dan jenuh. Kebiasaan ataupun budaya yang dibentuk dalam sebuah perusahaan menjadi sangat penting berkaitan dengan produktivitas serta kinerja para pegawai yang terlibat. Semakin terbukanya akses internet secara tidak langsung telah ‘membongkar’ budaya perusahaan, atau populer disebut dalam Bahasa Inggris dengan istilah corporate/company culture, beberapa perusahaan besar seperti Google, Facebook, hingga perusahaan yang belakangan dianggap kolaps, Kaskus. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan corporate culture?

Larry Alton, salah seorang kontributor majalah bisnis asal Amerika Serikat, Forbes, dalam artikelnya berjudul Why Corporate Culture Is Becoming Even More Important (17 Februari 2017) menyebutkan bahwa corporate culture telah menjadi topik diskusi yang semakin marak dalam 20 tahun terakhir. Alton juga menyebutkan bahwa istilah tersebut seolah telah menjadi sebuah buzzword ataupun jargon yang populer digunakan dalam lingkup perusahaan. A.B. Susanto, dalam bukunya Budaya Perusahaan mendefinisikan corporate culture sebagai:

Suatu nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan penyesuaian integrasi ke dalam perusahaan, sehingga masing-masing anggota  organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau berperilaku. (Susanto, 1997: 3)

Dalam artikelnya, Larry Alton mengungkapkan setidaknya ada tiga keuntungan yang bisa diperoleh dari sebuah corporate culture yang dibangun dengan baik:

1. Identitas atau Karakter Perusahaan

Kebiasaan ataupun budaya yang dibangun dalam sebuah perusahaan dapat menentukan identitas ataupun karakter dari sebuah perusahaan. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sebuah perusahaan mematok target-target jangka pendek/harian hingga visi jangka panjangnya. Contohnya, sebuah perusahaan yang menekankan pada kecepatan penyelesaian pekerjaan akan cenderung melahirkan individu-individu pegawai yang independen secara cara dan pola kerja. Hal ini bisa jadi berbeda dengan perusahaan yang menekankan pada kualitas hasil pekerjaan yang tidak terlalu bergantung dengan kecepatan penyelesaiannya. Pola perusahaan ini kemungkinan bisa menghasilkan lebih banyak diskusi bersama yang berpotensi memunculkan pola kerja yang lebih kolektif.

2. Dedikasi Pegawai dalam Perusahaan

Pola kerja yang dibangun dengan baik sangat berpotensi melahirkan pegawai-pegawai yang memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. Rasa kepemilikan ini tentu berkaitan dengan dedikasi pegawai, sejauh mana pegawai tersebut merasa kerasan berada dalam sebuah perusahaan sekaligus juga menjadi nilai jual bagi perusahaan yang bersangkutan untuk menarik pegawai-pegawai berkualitas yang potensial untuk direkrut. Para calon pegawai tentunya akan tertarik pada sebuah perusahaan yang menawarkan suasana bekerja yang nyaman dan produktif. Informasi tersebut tentunya hanya bisa muncul dari cerita-cerita pegawai perusahaan tertentu yang merasa kerasan dan senang bekerja dalam sebuah perusahaan.

3. Citra Perusahaan 

Sebuah perusahaan dengan corporate culture yang produktif sekaligus menyenangkan tentunya akan memberi kesan yang baik pada klien-klien perusahaan tersebut. Secara umum, kualitas sebuah perusahaan memang dapat dilihat dari sejauh mana mereka mampu menebus janji-janji yang mereka tawarkan pada klien. Namun, citra perusahaan tidak hanya dibentuk dari hasil akhir pekerjaan. Citra perusahaan juga bisa muncul dari pandangan klien ataupun pihak luar terhadap bagaimana perusahaan yang bersangkutan memperlakukan pegawai-pegawainya sehingga dapat menghasilkan pola kerja yang produktif. Citra yang baik tentu berpotensi menarik lebih banyak klien yang jelas akan sangat menguntungkan bagi perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan seperti Facebook menunjukkan ruangan hiburan untuk pegawainya yang secara tidak langsung memberikan kesan Facebook sebagai sebuah perusahaan bersuasana menyenangkan. Hal tersebut tentu melahirkan citra sebuah perusahaan besar dengan kondisi internal yang sehat.

Masih banyak lagi poin penting berkaitan dengan hubungan antara produktivitas dan citra perusahaan dengan bentukan corporate culture yang baik di dalamnya. Setidaknya, tiga poin di atas bisa cukup mewakili pentingnya membangun corporate culture yang produktif sekaligus menyenangkan.

Sumber:

Susanto, A.B. 1997. Budaya Perusahaan. Jakarta: Elexmedia Komputindo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let us help you with your projects