Apakah Vlog Punya Pengaruh Besar di Digital Marketing?

Brand dalam vlog. Apakah cukup berpengaruh?

“YouTube lebih dari TV!” seru seorang YouTuber dalam sebuah lagu kolaborasi dirinya dengan beberapa orang YouTuber lain. Mereka seolah ingin menawarkan pepatah baru di era 2.0 ini, dan merasa kanal mereka adalah solusi dari kejengahan masyarakat terhadap kanal televisi (yang kekuatan pengaruhnya besar). Ya, terlepas dari kenyataan bahwa mereka mungkin sedikit banyak masih butuh televisi—dan itu membuktikan, industri YouTube tidak sebesar itu juga, mungkin?—untuk saat ini mari kita amini ucapan para selebriti jagat maya ini, dan simak penjelasan kami.

Sebuah penelitian menyebutkan, anak-anak dan remaja di era informatika ini (atau yang biasa disebut dengan Generasi Z) cenderung lebih hafal dengan nama-nama YouTubers dan kanalnya, ketimbang nama bintang film terbaik saat ini. Di samping karena produksi konten YouTube mockumentary pendek dan review video yang muncul bertubi-tubi, kini ada lagi satu jenis video yang sedang hangat-hangatnya muncul bak gorengan di pagi hari. Vlog, namanya.

Vlog atau video blog, menurut Wikipedia, adalah blog dengan video sebagai mediumnya, sekaligus bentuk lain dari web television. Cakupan bahasan dari vlog ini bisa dibilang sangat luas. Dari mulai cerita keseharian hingga ide-ide sang vlogger tentang hal yang jadi minat dan perhatiannya, semua bisa dituangkan di format alternatif dari blog ini.

Nah, kehadiran vlog ini sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh brand sebagai pilihan saluran dalam strategi pemasaran. Kenapa harus vlog? Buzzing dari tulisan blog saja sudah menjadi salah satu marketing strategy yang sudah diakui ampuh. Nah, apalagi sekarang blog ini dikemas dengan gambar yang bergerak alias video. Bisa terbayang ‘kan betapa kuatnya daya publikasi vlog ini?

Oke, secara distribusi konten, mungkin vlog punya kekuatan yang besar. Tapi, daya pengaruhnya tidak sebesar itu di atas kertas. Menurut penelitian GlobalWebIndex, ternyata hanya 12% dari responden survey (170.000 pengguna internet) yang merasa bahwa mereka terpengaruh dengan rekomendasi dari vlogger. Dan, 50% dari responden itu ternyata diisi oleh Generasi Z lho!

Berarti, dapat ditarik kesimpulan kasar bahwa, meski Generasi Z ini begitu meleknya dengan teknologi dan cepat menyerap tren di media sosial (salah satunya YouTube), ternyata konsep vlogging bagi mereka hanya sampai ke level “sebagai pemberi informasi” bukan “influencer”.

Dengan kesimpulan ini, pertanyaannya kini hanya satu: Benarkah YouTube lebih besar dari TV?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let us help you with your projects