
Bagi kalian yang punya ketertarikan dalam berdiskusi politik luar negeri dan hubungan internasional, kami ucapkan selamat untuk kamu. Kami rasa, isu global yang belakangan ini mencuat tentang keluarnya negara Britania dari perserikatan Uni Eropa adalah seperti nasi padang di kala lapar siang-siang; nikmat untuk dilahap perlahan-lahan. Ditambah lagi, di media sosial, teman diskusimu kemungkinan besar akan bertambah pesat dari hari ke hari. Pembahasan tentang angkat kakinya negara Britania kini telah meningkat drastis. Terima kasih kepada hashtag #Brexit untuk hal tersebut!
Yap, tagar #Brexit jelas-jelas memicu perbincangan menyoal Britania vs Uni Eropa di media sosial. Warga Inggris, Skotlandia, Wales, dan negara di benua Eropa wajar saja bila meracau banyak tentang kasus ini. Lalu, bagaimana bisa Indonesia dan negara lainnya mengikuti isu ini? Kembali lagi, #Brexit memegang peran utama di sini.
Tanda pagar alias hashtag memiliki kemampuan untuk berada di mana-mana dan mengekor ke dalam satu kata kunci. Hashtag adalah bahasa media sosial yang bisa tersublimasi di lini masa netizen di seluruh penjuru dunia. Dalam kasus #Brexit, hashtag berhasil menjadi movement mencuri perhatian masyarakat dunia. Dengan nature-nya yang sepert ini, hashtag mempunyai beberapa kekuatan yang perlu dipertimbangkan.
Sifat hashtag yang paling mencolok adalah universal, di mana setiap orang bisa mengaksesnya kapanpun dengan satu klik. Jadi, meskipun kamu sekarang berada di tanah yang jauh dari negara Britania, #Brexit bisa memudahkanmu untuk mengeksplorasi isu di negara tersebut.
Karena sifatnya yang universal inilah, hashtag sangat mampu menciptakan engagement. Mereka yang ngeklik tagar bisa melihat orang-orang yang ikut meramaikan satu isu atau pergerakan yang sedang dibahas. Praktis, bukan enggak mungkin kamu bisa berdiskusi dengan orang Wales karena #Brexit, misalnya.
Dari kacamata digital communication, hashtag jelas punya peranan yang sentral. Bukan hanya karena simplicity-nya saja, hashtag juga merupakan kesempatan emas bagi para digital marketers untuk unjuk gigi—salah satunya melalui campaign. Sebab, fakta menyebutkan bahwa hanya 24% tweet yang mengandung hashtag, di Twitter.
Lihat, bukankah itu peluang besar bagimu untuk membesarkan nama brand? Sudah terpikir nama hashtag untuk brand campaign-mu? Jangan ragu mengkonsultasikannya dengan kami, ya!