Dua Perubahan Besar Twitter dan Dinamika Love-Hate Relationship

Pengusaha ternama asal Negeri Paman Sam, Jim Rohn, pernah mengukap, “Your life doesn’t get better by chance. It gets better by change.” Bila dihubungkan dengan sejumlah success story kebanyakan perusahaan besar dunia, ucapan Rohn boleh dibilang benar adanya. Tapi, apakah hal itu terjadi pada apa yang Twitter lakukan beberapa bulan belakangan ini?

Twitter melakukan sejibun perubahan di tahun 2015 ini, dari mulai location-based content hingga fitur berbagi tweet di direct message. Tidak begitu merasakannya? Kalau begitu, bagaimana dengan pergantian ‘bintang’ menjadi ‘hati’, dan fitur Twitter Poll? Kamu tidak mungkin melupakannya, ‘kan?

Perusahaan asal San Fransisco ini mungkin tidak menyangka bahwa ternyata perubahannya ini menuai suara sumbang dari para twittarian. Kelahiran ikon “favorite” yang berganti menjadi “like” adalah awal mulanya.

Dalih Twitter dalam perubahan yang satu ini yakni karena logo ‘hati’ dianggap lebih mudah dipahami dan tidak lebih memusingkan dibanding logo ‘bintang’, khususnya bagi para pengguna baru. Mereka sadar betul bahwa hati adalah simbol universal yang lebih mampu mengungkapkan ekspresi dan emosi. Namun, mereka nampaknya belum sepenuhnya sadar pula kalau fitur yang berada di ujung kanan sebuah tweet itu banyak dimanfaatkan sebagai sebuah bookmark.

Nah, sekarang, bagaimana jika ada yang membagikan foto jurnalisme seorang korban pemboman, dan tweet tersebut ini ingin disimpan sementara di ikon ‘hati’? Tidakkah ini membuat orang yang me-”like” akan terasosiasikan sebagai netizen yang menggemari gambar-gambar seram—meski kebutuhannya mungkin lain?

Karena logo “bintang” yang menjadi “hati”, tweet seperti yang satu ini jadi terlihat janggal ya, Tweeps?

Lain ladang, hampir serupa belalangnya: Twitter Poll sedikit banyak menerima juga respon negatif atas keberadaannya. Perlu diingat, di Twitter Poll, kamu boleh merangkai bagaimana pun isi dari kontennya. Apa yang ingin kamu tanyakan pada ‘warga’ Twitter lainnya? “Pakai kemeja lengan panjang atau pendek, untuk hari ini”? “Pilih klub A atau B untuk pertandingan bola nanti malam”? Atau, “setujukah kamu jika Justin Bieber menggunakan t-shirt Nirvana”?

Kamu boleh meminta pendapat pada netizen di Twitter. Masalah utama yang banyak dibahas tentang Twitter Poll ini sebenarnya ada pada user-nya sendiri. Seberapa bergantungkah kamu pada hasil dari Twitter Poll? Jika peruntukannya adalah sebuah insight, Twitter Poll jelas telah memperlihatkan sampel bias yang besar. Sebab, lingkup interest-mu dengan followers-mu pasti cenderung serupa, dan ini tentu saja tidak bisa dijadikan insight. Kecuali, kamu menggunakan Twitter Poll ini untuk twitter jokes untuk meramaikan brand-mu. Itu sih lain soal.

So, bagaimana menurutmu? Mana lebih kamu sukai?
[ ] “Favorite” yang menjadi “Like”
[ ] Twitter Poll
[ ] Tidak ada perubahan sama sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let us help you with your projects