Zaman sekarang, video sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat di setiap kalangan. Didukung dengan munculnya kamera di gadget, tren citizen journalism, serta fitur-fitur di social media yang menyediakan ruang bagi para penggunanya untuk berbagi video. Fenomena itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya Vine, aplikasi berbasis video berdurasi 6 detik yang mulai digandrungi para netizen.
Awalnya, konsep video-blogging seperti Vine dengan keterbatasan waktu untuk berbagi ini diprediksi akan gagal diterima masyarakat. Karena konsep ini mengharuskan mereka untuk memotong apa yang ingin mereka share agar cukup dengan durasi enam detik. Memang, tidak semua orang menyukai konsep durasi pendek ala Vine ini. Namun nyatanya, banyak perusahaan yang menggunakan enam detik untuk beriklan. Hasilnya, iklan mereka tampak lebih seperti animasi GIF untuk menginformasikan suatu produk atau jasa yang mereka tawarkan.
Melihat contoh di atas, sulitkah menerapkannya? Yup, it’s quiet tricky yet fun. Membuat video Vine ini memang membutuhkan kreativitas tinggi dan imajinasi yang out of the box. Dan, jangan lupa, make it simple!
Perlu diingat, target beriklan bukan agar konsumen menyaksikan iklan tersebut sampai selesai. Terlebih, tujuan advertising adalah bagaimana agar konsumen memahami pesan yang ingin disampaikan melalui iklan. Karena di sisi lain, marketer harus mengerti bahwa video yang berdurasi panjang bukan berarti selalu efektif untuk brand campaign mereka.
Popularitas Vine sebagai salah satu media marketing bahkan sudah merambah ke beberapa brand top dunia. Dunkin’ Donuts tercatat sebagai perusahaan pertama yang menggunakan Vine untuk seluruh iklan televisinya di tahun 2013. Berikutnya nama-nama seperti Taco Bell, General Electric, McDonald’s, Perrier, Oreo, Airbnb, dan Xbox ikut menggunakan Vine dalam strategi marketing mereka.
Efektifitas dan efisiensi menjadi kunci utama yang harus diperhatikan. Hal itu sesuai dengan filosofi dasar Vine yang diungkapkan oleh sang co-founder, Dom Hofmann, bahwa 6 detik merupakan durasi yang pas dalam menyeimbangkan antara feel artistik dan ketepatan impresi yang ingin disampaikan oleh si kreator.
Paint with extraordinary colors & @PerrierUSA. #ExtraordinairePerrier #partner https://t.co/I1VVZxHX0u
— Wahyu Ichwandardi (@pinot) November 23, 2015
Sebagai aplikasi yang tergolong belia, Vine memang masih belum bisa berdiri sendiri dan “bergantung” kepada Twitter. Namun walaupun demikian Vine punya tempat tersendiri di hati para netizen, terbukti dalam setiap detik ada minimal lima video Vine yang di-tweet. Angka tersebut tentunya bisa bertambah lagi di masa depan, apalagi di tahun 2017 nanti diprediksi 2/3 content di media sosial adalah video.
So, siapkah berkreasi untuk video enam detik?