Internet dan Extreme Present

Minggu lalu kita sudah membahas seorang pemikir media, Marshall McLuhan, nah kali ini pembahasannya masih tidak terlalu jauh dari pengaruh pemikiran beliau. Kali ini kita akan membahas pengaruh media informasi, dalam hal ini internet, terhadap pola pikir ataupun cara pandang generasi yang tumbuh bersama internet itu sendiri. Apakah kamu merasa sebagai bagian dari generasi tersebut? Generasi yang tumbuh bersama internet, dalam artian generasi yang sejak kecil sudah mengenal internet (mereka yang lahir di akhir tahun 1990-an hingga 2000-an), merupakan generasi yang mengalami extreme present. Apakah yang dimaksud dengan extreme present?

Istilah extreme present dikemukakan oleh seorang kurator, kritikus, sekaligus sejarawan seni berkebangsaan Swiss, Hans Ulrich Obrist, dalam bukunya yang berjudul The Age of Earthquakes: A Guide to the Extreme Present (2015). Buku ini, menurut Obrist, merupakan kelanjutan dari gagasan Marshall McLuhan dalam bukunya The Medium is the Massage: An Inventory of Effects (1967). Dalam bukunya, Obrist menyebutkan bahwa generasi yang tumbuh dengan internet akan mengalami kondisi extreme present dimana mereka merasa kesulitan untuk mengikuti percepatan informasi di masa sekarang, hingga akhirnya juga kesulitan untuk mempersiapkan masa depan. Generasi ini merupakan generasi yang terlalu sibuk dengan masa sekarang sehingga seolah-olah tidak menyadari akan datangnya masa depan (bisa dalam bentuk informasi hingga teknologi terbaru). Lalu, apakah generasi ini dapat disebut sebagai generasi yang buruk?

Ketidakmampuan mempersiapkan masa depan tentunya bukanlah sebuah penilaian absolut terhadap generasi dengan kondisi extreme present ini. Generasi yang juga seringkali disebut sebagai Generasi Z ini sebenarnya adalah generasi yang paling diuntungkan secara aksesibilitas informasi, yang kemudian mendorong mereka untuk lebih cepat tanggap, aktual, sekaligus lebih kompleks apabila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi ini merupakan generasi yang seharusnya menghasilkan lebih banyak temuan serta pemikiran baru sekaligus juga solusi bagi persoalan-persoalan manusia, baik secara umum maupun secara individu.

Teknologi informasi seperti internet di satu sisi sangat menguntungkan kita sebagai manusia. Kita bisa mengakses banyak hal sesuai dengan keinginan kita dalam waktu yang sangat cepat. Tapi di sisi lain, percepatan informasi ini juga bisa menekan manusia, terutama dari sisi psikologis. Coba kamu ingat-ingat, berapa banyak di antara teman-teman kamu yang akhirnya berhenti memanfaatkan media sosial karena merasa tertekan melihat aktivitas lingkaran pertemanannya sendiri? Atau bahkan, ada pula yang enggan menggunakan media sosial dengan alasan terlalu menghabiskan waktu dan membuatnya tidak produktif?

Sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang bisa dibahas berkaitan dengan internet dan efeknya, terutama bagi generasi yang mengalami kondisi extreme present seperti yang telah disebutkan oleh Hans Ulrich Obrist. Tapi kita simpan dulu ya bahasan lainnya di artikel-artikel mendatang. Nah, setelah membaca artikel ini, apakah kamu sendiri pernah merasa mengalami kondisi extreme present dengan hadirnya internet?

Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let us help you with your projects