Jika dulu pagar hanya identik dengan halaman rumah, kini tidak lagi. Ia telah bertransformasi menjadi satu elemen penggerak perubahan di dunia digital. Berbagai organisasi masyarakat dan brand memanfaatkakan tanda pagar/hashtag (#) untuk beragam kepentingan. Kehadirannya membuat batas dunia nyata dan maya tidak lagi relevan.
KASUS Charlie Hebdo yang menghebohkan Januari awal tahun 2015 dapat jadi contoh terbaik. Peristiwa penembakan kartunis dan anggota redaksi majalah satir Perancis itu memancing simpati para netizen di dunia digital. Hashtag #JeSuisCharlie (Saya Charlie) digunakan untuk menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan pers dan kebebasan berekspresi di Perancis.
Tak kurang, sehari setelah peristiwa penembakan itu terjadi, tweet dengan hashtag #JeSuisCharlie hampir mencapai 6.500 tweet per menit. Hingga Jumat 9 Januari 2015,

jumlah semakin menanjak sampai mencapai 5 juta tweet. Seperti dilaporkan moneycnn.com, hashtag tersebut menjadi rekor sebagai tweet-berita terbanyak sepanjang sejarah Twitter. Berbagai aksi demonstrasi dan simpati di jalanan pun berlangsung di banyak negara. Mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman hingga Perancis itu sendiri.
Terlepas dari setuju dan tidaknya terhadap kontroversi peristiwa Charlie Hebdo tersebut, adanya hashtag yang mencapai rekor tersebut merupakan bukti bahwa kekuatan perubahan bisa dimulai di dunia digital. Seluruh netizen, tdak peduli tokoh publik atau orang biasa, dapat menunjukkan simpati atas peristiwa yang sedang hangat berlangsung. Terlebih jika kejadian itu menggugah emosi banyak orang seperti kasus kemanusiaan.


Manuel Castells dalam “Networks of Outrage and Hope” di tahun 2012 menyebutkan beberapa karakteristik gerakan sosial. Ia menyebutkan term “The Space of Autonomy” di mana terdapat peleburan antara ruang digital di dunia maya dengan ruang publik. Pengaruh antara keduanya saling berkelindan dan mempengaruhi satu sama lain. Ungkapan “Yang di dunia nyata diomongin di dunia maya, yang di dunia maya diomongin di dunia nyata” cukup bisa menjelaskan term “The Space of Autonomy” ini.
Meski perubahan dimulai di internet, gerakan menjadi menyebar ketika orang-orang mulai mengokupasi ruang publik dan mengaspirasikan suaranya untuk kepentingan publik. Jadi, hal ini bukan sekadar euforia belaka. Internet dan dunia digital hanyalah awal dari sebuah gerakan yang berpotensi menjadi besar. (Baca lebih lanjut: ‘Beyond #hashtags: Netizen’ Outrage and Hope‘).
Setidaknya ada dua kelebihan yang ditawarkan kampanye isu sosial lewat di dunia digital dengan hashtag ini. Pertama, gelombang besar isu yang selama ini mendapat porsi sedikit di media mainstream menjadi terekspos. Publik bisa dengan cerdas memilah sudut pandang mana yang kerap kali diabaikan media seperti televisi atau surat kabar. Cara baru mencermati peristiwa di berbagai belahan dunia kini terbuka.
Kedua, meski kadang terdapat bias dalam hal pemahaman isu, kampanye sosial lewat dunia digital tetap bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan mengajak publik saling berbagi informasi satu sama lain. Artinya, secara tidak langsung kesadaran publik terhadap suatu isu menjadi meningkat. Mereka bisa saling berdiskusi dan bertukar informasi sekaligus meng-update wawasan mereka sendiri.
Di samping itu, data menunjukkan lebih dari 70% netizen kerap kali menggunakan hashtag via mobile, dan 55% di antaranya lebih mendapat banyak retweet dibanding yang tidak menggunakan hashtag. Apalagi jika pemasar memanfaatkan hashtag ini untuk memberikan special treatment pada user (selengkapnya lihat infografik).
Dengan fakta-fakta di atas, masihkah hashtag sebagai instrumen penting di dunia digital diremehkan? Tentu tidak. Kehadiran hashtag beserta isu kampanye sosial yang digagas beberapa pihak bisa menjadi kelebihan dunia digital. Dengan tidak memandang batas-batas wilayah geografis suatu negara, kampanye bisa diakses dengan jangkauan global. Target market yang tepat memungkinkan kampanye menjadi viral dan memunculkan kesadaran publik lebih besar.
Referensi:
- http://www.thejakartapost.com/news/2014/10/02/beyond-hashtags-netizens-outrage-and-hope.html
- http://money.cnn.com/2015/01/09/technology/social/jesuischarlie-hashtag-twitter/index.html?sr=twmoney0109jesuischarlie225pstory
- http://www.newsweek.com/hashtags-and-human-rights-activism-age-twitter-290950
- http://www.entrepreneur.com/article/232536 (infographic)
- https://twitter.com/CNNMoney/ (screenshot)