Bayangkan ketika konten yang kamu buat di media sosial mendapat jempol berlimpah, diperbincangkan di kolom komentar, dan tersebar secara organik layaknya virus jahat yang menghinggapi satu kota. Hmmm, mimpi indah setiap content marketer bukan?
Hingga saat ini, belum ada mantra ajaib yang bisa membuat content writing-mu menjadi buah bibir masyarakat. Selain selera seni yang baik dan kerja keras berupa trial and error, kreativitas dalam melihat target pembacamu adalah syarat utama untuk melahirkan konten yang viral. Kami merangkumnya menjadi lima poin kunci. Check this out!
1. Libatkan pembacamu
Dalam sebuah pertemanan kelompok, bagaimana rasanya jika kita diajak mengikuti suatu acara bersama-sama? Pasti senang, ya? Nah, percayakan admin media sosial untuk urusan ini. Mereka adalah kunci untuk mengajak dan membuat konsumen memiliki sense of belonging yang kuat terhadap brand.
@giveittothejew So glad you're loving Lyft! 🙂
— Lyft (@lyft) August 11, 2014
Lyft, aplikasi nebeng luar negeri, berbincang dengan penggunanya.
2. Temukan kebanggaan mereka
Di Lego, banyak yang merasa bangga—baik orang dewasa maupun anak-anak—memamerkan bahwa hasil tangannya merangkai kubus-kubus Lego. Nah, ketika kamu berhasil mengaitkan brand-mu dengan pride mereka, bersiaplah kontenmu menjamur luas!
My @LEGOIdeas collection, but what's next? pic.twitter.com/jY7aCvMRxW
— Christopher Cummings (@brummingham) January 25, 2015
Cerita seorang LEGO enthusiast di dalam sebuah tweet. Menunjukkan kebanggaannya.
3. TAG!
Ya. Sudah jelas? Poin ini menyambung poin pertama. Tag atau mention konsumen setiamu di dalam postingan! Dengan begitu, mereka akan merasa menjadi bagian dari konten tersebut; merasa terhubung dan terlibat dengan apa yang disampaikan brand.
And with friends around, it becomes the perfect #OpenHappiness moment! RIGHT?! 😉 #WorldsCup @Priyaa_G
— Coca-Cola (@CocaCola) April 2, 2014
Coca-Cola Internasional menyapa fans-nya dalam momen Piala Dunia 2014.
4. Apakah ada nilai tambah dari kontenmu?
Sampaikan pertanyaan ini kepada diri sendiri saat menggarap editorial plan. Ingat, manusia pada dasarnya senang dengan rasa nyaman dan bahagia. Sekaligus, mereka juga ingin memenuhi asupan otak mereka dengan informasi trivial. Konten yang edukatif seperti how-to, dan lelucon-lelucon observasional bisa kamu gunakan.
Happy staff! #pride2014 pic.twitter.com/COFeZZoQI2
— Alta CA (@AltaCAsf) June 29, 2014
Salah satu nilai tambah konten: Capture your people!
5. Call-to-action? Wajib!
Bagaimana mungkin call-to-action tidak diperlukan di dalam konten. Justru dengan content marketing lah kamu ingin ‘berbincang’ dengan konsumenmu, ‘kan? Seberapa keren pun kamu merangkai kata pada copy, akan sia-sia saja tanpa call-to-action yang catchy. Mencantumkan call-to-action akan membuat mereka secara otomatis membagikan konten ke khalayak yang lebih luas, tanpa harus kita yang meminta.
Retweet this for bonus entry into our #Cadbury2012 draw and a chance to win @ParalympicsGB Opening Ceremony tickets! http://t.co/IxSAXHPQ
— Cadbury UK (@CadburyUK) August 12, 2012
Cadbury mengaplikasikan call-to-action pada kontennya, berupa ajakan untuk retweet.
2 Responses