“Bukannya belajar, malah nonton film!”, seru orang tuamu di masa sekolah dulu. Ya, ada maksud baik sih orang tuamu bilang begitu. Tapi, sebenarnya, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari film salah satunya yaitu marketing. Percaya atau tidak, ada beberapa pelajaran penting yang tersembunyi bagi para marketer dalam film-film tersebut . Nonton film sambil belajar tidak ada salahnya, ‘kan?
The Breakfast Club
Di salah satu adegan film The Breakfast Club, Ally Sheedy mengosongkan tasnya agar Emilio Estevez dan Anthony Michael Hall melihat apa isi tasnya. Ketika dia ditanya mengapa dia membawa semua barang itu, dia bilang, “You never know when you may have to jam”. Itu saran yang bagus untuk seorang profesional. Ketika pada waktu krusial ketika kesempatan datang, apakah Kamu bisa mempersiapkan portfolio-mu hanya dengan satu kedipan? Tidak, ‘kan? Kamu harus mempersiapkannya dengan baik dan matang.
Kamu bisa membawa salinan softcopy dan hardcopy portfoliomu untuk dibawa ke setiap pertemuan. Mungkin Kamu bisa membuat koneksi untuk projek baru di pertemuan tersebut. Siapa yang tahu, ‘kan? Waktu adalah uang. Jadilah seseorang yang proaktif. Siap bermain di segala macam permainan. Apakah Kamu membeli payung saat hujan? Tentu saja sedia payung sebelum hujan, ‘kan?
Sixteen Candles
Samantha tidak hanya merasa dilupakan oleh keluarganya tapi juga oleh gebetannya, Jake. Bahkan, Jake tidak tahu Samantha itu ada bahkan sebelum Samantha sengaja menjatuhkan selembar kertas di mana ia telah menulis perasaan yang sebenarnya. Jake menjadi tertarik terhadap Samantha setelah menemukan kertas itu, namun tetap sulit ketika Dia ingin menghubunginya. Dia mencoba menelepon rumahnya, tapi kakek-neneknya mengangkat telepon dan segera membuatnya menjauh. Kemudian ia mencoba pergi ke rumahnya langsung, tapi karena miskomunikasi, dia percaya Samantha akan menikah, padahal kakaknya lah yang akan menikah.
Jika Marketing Campaign-mu tidak mengirimkan pesan yang konsisten, itu dapat membingungkan pelanggan, seperti miskomunikasi yang menyebabkan Jake berpikir bahwa Dia tidak punya kesempatan dengan Samantha. Pastikan pesan marketingmu konsisten di semua outlet dari iklan tradisional hingga media sosial maupun website. Pelanggan akan berubah pikiran jika campaign yang dijanjikan tidak sama di semua platform.
Ferris Bueller’s Day Off
Dalam salah satu adegan yang paling berkesan dari “Ferris Bueller’s Day Off,” seorang guru ekonomi (Ben Stein) dengan tanpa hasil memanggil satu nama lagi dan lagi saat mengabsen kehadiran: “… Bueller? … Bueller? … Bueller? ”
Jelas, karakter Stein tidak mendapat perhatian dengan mencoba untuk terlibat lagi dan lagi dengan cara yang sama, kepada: seseorang yang memang tidak mendengarkan. Jika email penawaran jatuh kepada orang yang memang tidak tertarik dengan penawaranmu, pertimbangkan untuk membuat ulang strategi engagement campaignmu. Dengan begitu, Kamu akan mengetahui persis bagaimana untuk membawa mereka kembali ke dalam pusaran atau, jika semuanya gagal, hapus mereka dari daftarmu untuk selamanya.
Selain menghibur, film juga mengajarkan kita satu atau beberapa hal dalam menghadapi kehidupan ini, salah satunya masalah marketing. Tidak ada salahnya nonton film sambil belajar, ‘kan?
