Pengaruh Kefamiliaritasan Terhadap Strategi Pemasaran

“Eh ternyata film A tuh prequel dari film B lho. Nonton yuk!” atau “Eh karakter di film A ada di film B lho. Harus banget nonton”. Pernah mendengar pernyataan tersebut? Atau Anda sendiri berpikiran sama? Ya, Sequel, Prequel, Spin-off, Crossover… you name it, merupakan sebuah hook untuk menarik minat penikmat film beratasnamakan ke-“familiaritas”-an.

Lalu atas dasar apa para pembuat film menggunakan ke-”familiaritas”-an tersebut terhadap karya-karyanya? Marketing, pada dasarnya berkaitan dengan mengejar dua tujuan utama, yaitu:

  1. Memahami perilaku manusia, dan
  2. Mempengaruhi perilaku manusia.

Dan psikologi, studi ilmiah tentang pikiran dan perilaku, memberikan fondasi penting untuk semua teori pemasaran. Salah satunya “The Mere Exposure Effect” oleh Robert Zajonc, yang menyadari bahwa ketika seekor binatang menghadapi sesuatu yang baru, mereka akan menunjukkan ketakutan dan penolakkan. Dan Zajonc mendemonstrasikan “The Mere Exposure Effect” dalam tiga percobaan yang berbeda: Untuk masing-masing, partisipan diperlihatkan rangsangan, mulai dari 1 sampai 25 kali, dan kemudian diminta untuk menilai kefavoritan mereka. Secara konsisten, peserta yang terkena rangsangan lebih, mereka menilai lebih tinggi.

Dan memang manusia cenderung untuk mengembangkan preferensi untuk hal (produk, ide dll) yang lebih sering mereka lihat. Hubungannya apa sih dengan strategi pemasaran? Sebelum rilis produk baru, perusahaan sering meluncurkan kampanye untuk meningkatkan keakraban dengan produk. Efeknya juga membantu menjelaskan keberhasilan ekstensi merek, jika orang sudah dikenalkan baik dengan merek Anda, ada kemungkinan besar mereka akan tertarik pada penawaran terbaru Anda.

Dengan konsep tersebutlah para pembuat film menciptakan film-film berdasarkan film yang sudah ada seperti membuat Sequel, Prequel, Spin-off, Crossover. Contohnya seperti Spin-off dari “The Walking Dead” yaitu “Fear The Walking Dead”. Spin-off yang merupakan film yang berasal dari satu atau lebih karya yang sudah ada, yang berfokus, khususnya, secara lebih rinci pada satu aspek dari film asli (misalnya topik tertentu, karakter, atau peristiwa) ini cukup menarik minat penikmat film lho.

Idea@work – Spin-off: salah satu strategi pemasaran melalui kefamiliaritasan. #blogpost
Spin-off: salah satu strategi pemasaran melalui kefamiliaritasan.

Sama halnya dengan Crossover, penempatan dua atau lebih karakter fiksi, latar, atau “universe” ke dalam konteks cerita tunggal ini juga berdasarkan konsep familiaritas. Seperti Crossover antara Arrow dan The Flash. Dalam Crossover ini penikmat film disuguhkan tayangan yang cukup menarik minat mereka karena seperti yang sudah kita tahu bahwa Arrow dan The Flash adalah dua tayangan yang berbeda dengan jam tayang berbeda pula, tapi disuguhkan menjadi cerita tunggal.

Idea@work – Spin-off: salah satu strategi pemasaran melalui kefamiliaritasan. #blogpost
Spin-off: salah satu strategi pemasaran melalui kefamiliaritasan
Idea@work – Spin-off: salah satu strategi pemasaran melalui kefamiliaritasan. #blogpost
Perbincangan hangat mengenai Crossover dan Prequel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lalu bagaimana dengan Prequel dan Sequel? Sama saja seperti Spin-off dan Crossover, Prequel dan Sequel pun cukup menarik minat penikmat film. Buktinya seperti film Prometheus pada tiga tahun yang lalu. Film yang berdurasi sekitar dua jam ini menjadi perbincangan hangat pada masanya karena dilansir sebagai Prequel dari film Alien (1979). Ya, film dengan rating 8,5/10 dari 516.264 pengguna ini menjadi alasan mengapa Prometheus menarik minat para penikmat film untuk menonton film tersebut.

Terbukti bahwa menggunakan konsep familiaritas dalam strategi pemasaran cukup mempengaruhi minat pengguna. Jadi, apakah Anda tertarik menggunakan konsep familiaritas untuk strategi pemasaran untuk brand Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Let us help you with your projects