
Menurutmu, apa yang menyebabkan audiens memutuskan untuk terlibat dengan suatu brand? Apakah karena berdasarkan logika? Mungkin mereka melakukan beberapa reasoning dalam memutuskan sesuatu. Merepresentasikan setiap fakta dengan menggunakan metode inferensi (sebab akibat), lalu mendapatkan hasil? Tapi apakah benar mereka menghasilkan keputusan hanya berdasarkan logika?
Manusia pada dasarnya mengambil keputusan dipengaruhi oleh proses mental atau kognitif. Ya, pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kepercayaan mereka tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Dan psikologi adalah bidang ilmu yang mempelajari hal tersebut.
Kamu tidak perlu jadi psikolog atau menyewa seorang psikolog kok untuk memahami perilaku audiens. Because they all learned about it and we can learn it too. But, no. They actually exist for a reason though. You can hire them or just simply learn it. Hey, it’s your decision to make. Have your decision already been affected by us? No, we are not psychic. Wait, can psychic affect our decision? Okay, stop it! Let’s talk about psychology and how it can affect audiences.
1. Reciprocity Principles
Pernah mendengar peribahasa yang berbunyi, “Tit for tat” atau “Gayung bersambut”? Prinsip resiprokal atau ide timbal balik dalam psikologi sosial adalah bahwa jika A melakukan sesuatu yang positif untuk B, maka B akan pada gilirannya merasa lebih kooperatif dan diperkirakan bahwa B mungkin akan melakukan sesuatu yang positif bagi A. Itu tidak bisa kita pungkiri dan itu merupakan sebuah kewajiban sosial maupun dalam kehidupan di mana kita menjadi pemeran utama, pemeran pembantu atau hanya sekedar menjadi audiens. Pada intinya adalah berikan sesuatu yang berharga kepada audiens untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasannya.
2. The Endowment Effect
The Endowment Effect merupakan hipotesis bahwa orang menganggap sesuatu bernilai lebih hanya karena mereka memilikinya. Manusia akan cenderung untuk membayar lebih untuk mempertahankan sesuatu yang mereka punya daripada mendapatkan sesuatu yang mereka belum punya. Bantu audiens meningkatkan sense of belonging mereka pada produk atau brand dengan mendorong umpan balik dan saran atau meminta keterlibatan di media sosial.
3. Scarcity Theory
“Persediaan terbatas”. Ya, itulah scarcity. Teori psikologi ini kembali ke rumus sederhana penawaran dan permintaan: Semakin langka suatu barang maka akan semakin berharga. Manusia memberikan nilai tinggi pada objek yang langka, dan nilai yang lebih rendah pada objek yang mudah didapatkan.
4. Mere Exposure Theory
“The more we’re exposed to something, the more we like it.” Seperti yang telah kami bahas di artikel sebelumnya yang berjudul: Pengaruh Kefamiliaritasan Terhadap Strategi Pemasaran, pernyataan tersebut didukung oleh riset yang dilakukan Robert Zajonc. Ia mendemonstrasikan “The Mere Exposure Effect” dalam tiga percobaan yang berbeda: Untuk masing-masing, partisipan diperlihatkan rangsangan, mulai dari satu sampai 25 kali, dan kemudian diminta untuk menilai kefavoritan mereka. Secara konsisten, peserta yang terkena rangsangan lebih, mereka menilai lebih tinggi.
Jangan takut untuk mengulangi pesanmu. Hal ini dapat bekerja dengan baik untuk berbagi di media sosial, seperti reposting konten bermanfaat yang dapat memiliki dampak langsung pada audiens.
Memahami sedikit perilaku psikologi audiens dapat membuatmu memahami audiens dan mengapa mereka melakukan hal-hal yang mereka lakukan di media sosial dan di website suatu brand. Jadi tidak ada salahnya untuk mencoba memahami mereka, ‘kan? Karena:
“Get closer than ever to your customers. So close that you tell them what they need well before they realize it themselves.” – Steve Jobs
Enough said.
One Response