
Tidak sedikit orang yang mendengar kata radikal akan lebih condong berfikiran negatif, kekerasan dan tidak mengikuti aturan. Pada dasarnya faham radikal juga bisa digunakan untuk hal biasa menjadi tidak biasa dalam artian positif, tidak terkecuali dalam strategi marketing. Sebagai perbandingan untuk para pelaku marketing secara konvensional mereka lebih mengandalkan data dari hasil riset pasar dan merencanakan pemasaran berdasarkan periklanan. Berbanding terbalik dengan strategi radikal marketing yang sangat skeptis dengan riset pasar, merencanakan pemasaran sesuai dengan apa yang dilihat langsung di pasar yang digelutinya atau dengan berkomunikasi langsung dengan massa pasar.

Ada beberapa perusahaan yang menerapkan strategi radikal marketing, diantaranya Harley Davidson, NBA, Boston Beer Company, Harvard Business School dan sebuah grup band lawas The Grateful Dead. Untuk contoh yang mudah kita cermati adalah band The Grateful Dead. Sudah berapa kali anda mendengar para pekerja seni terutama musisi yang selalu mengeluhkan tentang pembajakan yang semakin merajalela. Akibat dari pembajakan inilah para musisi merasa dirugikan hasil karya mereka tidak dihargai, diperjual belikan tanpa adanya profit bagi si empunya karya. Tapi, untuk sebuah grup band lawas berbeda, mereka melihat pembajakan adalah hal yang memang wajar dan tidak bisa ditanggulangi. Untuk itu mereka tidak ambil pusing kerugian yang dialami dari pembajakan, justru mereka “menyuruh” fansnya selalu merekam dan mengedarkan karyanya baik hanya dalam bentuk lagunya saja atau ketika mereka konser dari panggung ke panggung, karena mereka percaya dengan cara pembajakan itu akan membuat mereka lebih terkenal, mereka lebih mencintai fansnya ketimbang pusing memikirkan pembajakan. Mereka mendapatkan keuntungan dari setiap komunitas yang ingin mengundang mereka untuk konser, membangun loyalitas kepada fans, sehingga terbentuklah kolaborasi gaya hidup ala “Dead Head” sebutan untuk para fans mereka.

Dalam buku Radical Marketing Karangan Sam Hill & Glenn Rifkin, intinya Ia memberikan 3 Faktor otentik dalam strategi Pemasaran Radikal, antara lain:
- Para pemasar radikal memiliki ikatan intuisi yang kuat dengan target market tertentu.
- Para pemasar radikal cenderung fokus pada pertumbuhan dan melakukan ekspansi dari pada meraup profit jangka pendek di akhir tahun
- Para pemasar radikal cenderung menyadari keterbatasan sumberdaya, terutama dalam hal anggaran. Sehingga mereka memacu otak kreatifnya untuk bekerja lebih keras.
Sehingga bisa kita simpulkan bahwa radikal marketing bisa memacu diri kita sebagai pelaku marketing untuk lebih kreatif lagi dan bekerja keras mencari peluang yang justru dijauhi bahkan dibenci oleh para marketer lain. Jangan selalu skeptis dengan hal-hal yang dianggap tidak mungkin terjadi dan terlalu radikal, karena mungkin disanalah justru ada peluang untuk menciptakan kreatifitas dan industri yang baru. Jangan hanya selalu berfikiran “Out of the box” tapi berfikirlah bahwa tidak ada box sehingga kalian bisa semakin liar untuk memacu pemikiran kreatifitasnya. Selamat mencoba!