Mari kita ingat-ingat kembali bagaimana adegan klise dari aksi seorang ahli hipnotis. “Fokus! Dan dalam hitungan tiga, Anda akan masuk ke alam bawah sadar Anda,” ujarnya sembari menyuruh sang relawan—bisa disebut juga ‘korban’ yang merelakan diri—melihat gambar lingkaran hitam-putih yang berputar-putar berulang kali. ‘Korban’ pun tertidur, tidak sadar, dan siap menjadi kelinci percobaan untuk aksi apapun, sesaat setelah si pesulap menjentikkan jemarinya.
Potret ini kelihatannya menginspirasi penggarap konten di online marketing, terelaborasi dalam visual content berformat GIF.
Hype dari GIF (Graphics Interchange Format) ini asal-usulnya hadir pada tahun 1987, yang dikembangkan oleh sang inisiator CompuServe, sebuah perusahaan jasa tertua asal Amerika Serikat. Dalam waktu yang terus bergulir, GIF senantiasa berkembang di lingkup internet. Sampai-sampai relevansinya dengan content marketing pun tinggi hingga hari ini, bersama dengan segala keunggulan di dalamnya.
Yup, benar sekali. Banyak kelebihan yang bisa ditemui dengan menjadikan GIF sebagai media untuk mencuri pandangan konsumen saat mereka men-scroll lini masa media sosial kesayangannya.
Bersamaan dengan internet memes yang menginfiltrasi joke dunia maya, GIF semakin ke sini tumbuh populer. Data yang dihimpun New York Times menyingkap, ada 23 juta gambar GIF yang di-post di Tumblr setiap harinya.
Bayangkan, itu belum termasuk medium-medium yang ramai dihinggapi khalayak netizen lainnya lho, seperti Facebook, Twitter, dan situs guyonan termahsyur 9gag. So, yeah, GIF is a pop culture which is very reliable to spice up content strategy.





Secara teknis, GIF dalam banyak hal lebih mantap dari format-format lainnya. Proses membuatnya saja terhitung sangat mudah. Photoshop bisa kamu andalkan untuk berkreasi . Atau, monggo, seluncuri saja Google dengan kata kunci “Create GIF” atau “GIF creator”. Tools yang tersedia bisa kamu manfaatkan untuk menciptakan gambar bergerak yang menarik perhatian publik maya—dan tidak perlu sepanjang ads video.
You are getting hungry, very hungry. I see delicious DiGiorno pizzeria! pizza in your future. pic.twitter.com/9EyHLEk0K1
— DiGiorno Pizza (@DiGiornoPizza) April 9, 2015
Unleash the #GIFs! For more #EndlessFun go to http://t.co/2PwUiYt05a. pic.twitter.com/pgFMNVlgvS — FIAT USA (@FIATUSA) June 18, 2014
It’s Friday night. Beer lovers unite. #tgif pic.twitter.com/RwIeJMb38A
— Bud Light (@budlight) June 27, 2014
pic.twitter.com/ZjvXYvdUGw — Mountain Dew® (@MountainDew) June 16, 2015
You just HAVE to send one more GIF on Twitter before your phone dies? Switch to Ultra Power Saving Mode. #GALAXYS5 pic.twitter.com/nvGXD5IE22
— Samsung Mobile (@SamsungMobile) June 18, 2014
Is there something on our cheek? pic.twitter.com/MqyQYAFckr — Wendy’s (@Wendys) June 18, 2014
Repetisi seperti lingkaran hipnotis, ide gila yang paripurna, dan beberapa sentuhan lelucon, adalah contoh bumbu dasar untuk meracik GIF yang bisa merebut perhatian netizen.
Lewat popularitas yang tinggi bak bintang basket di sekolahan, GIF merupakan alternatif yang mumpuni untuk menggaet audience di media sosial. Apalagi dengan pembuatannya yang mudah, kamu tinggal membaluti GIF dengan konsep atraktif, agar menjadi konten yang witty.
Ingat aksi ahli hipnotis yang tadi? Dengan bumbu yang ciamik di dalam GIF-mu, bukan tidak mungkin kamu akan ‘menghipnotis’ orang-orang melalui gambar yang diputar berulang-ulang. Lalu, klik! Hanya dengan sekali jentik, like akan membanjiri kontenmu.