Ada yang menyukai camilan keripik dengan level–level pedas? Atau, kamu adalah penikmat rainbow cake? Dan apakah kalian menyadari semakin hari semakin banyak pilihan kita untuk berbelanja kebutuhan sandang karena banyak bermunculannya distro/clothing line saat ini? Ya, semua itu adalah fenomena – fenomena yang ada di negeri tercinta kita ini. Sekali fenomena itu mencuat, tidak sedikit para pelaku-pelaku bisnis yang bergelut pada bidang yang sama akan “latah” mengikuti fenomena tersebut. Terus, apa jadinya?
Pada akhirnya fenomena tersebut mencuat sesaat, tenggelam kemudian. Walaupun, ada beberapa yang masih konsisten menggarap bisnis melalui fenomena tersebut. Bukan hal baru bisnis clothing line bagi anak muda, bahkan bisa dibilang clothing line bisnis umum dalam langkah pertama untuk anak muda yang memilih di dunia bisnis.
Tidak ada yang salah dari sebuah fenomena dan followers dalam fenomena bisnis tersebut. Karena mencontek adalah hal yang mudah dibandingkan merintis baru, ketika ingin memulai bisnis tidak bisa dipungkiri bahwa pertama yang dipikirkan pasti “Saat ini yang sedang ramai di pasar itu apa ya?” pertanyaan tersebut memancing sebuah jawaban-jawaban tren bisnis saat ini. Meskipun begitu consultant creative Yoris Sebastian mengingatkan untuk, “Be inspired, don’t copy-paste!”
Karena jika kita menelan bulat-bulat apa yang sudah menjadi tren, kita terjebak dalam apa yang disebut Me-tooism dan kita akan kesulitan kedepannya nanti. Karena konsumen pun secara otomatis mempunyai banyak pilihan yang sama yang suatu saat nanti akan mencapai pada titik bosan dan meninggalkan apa yang sudah menjadi kebanyakan.
Ciptakan diversifikasi yang menjadi pembeda dalam sebuah produk yang sudah banyak di pasaran. Sehingga produk kita menjadi produk fenomena yang lebih fresh yang bisa menjadi pilihan baru untuk konsumen. Konsep Me-tooism sah–sah saja apabila masih dalam konteks pemberi inspirasi awal. Banyak yang dapat dilakukan untuk memodifikasi tren dan fenomena yang sudah ada, salah satu yang utama. Bisa dimulai dari mengamati, misalnya, bagaimana perilaku konsumen dalam membeli barang. dan apa yang menjadi nilai jual yang disukai dan kurang disukai. Dari sanalah kita bisa membuat pilihan baru yang lebih fresh bagi mereka.
Bisnis adalah dunia kreatif yang dinamis. Tidak harus selalu mengikuti pasar yang ada, walaupun inspirasi awal untuk membangun bisnis dapat diambil dari gejolak pasar saat ini. Untuk menjadi pelaku konsep Me-tooism harus disadari bahwa semakin mengikuti tren maka akan semakin banyak kompetitor-kompetitor yang bisa saling injak-menginjak. Jangan takut dengan berkreasi dan memodifikasi trend dapat kehilangan pasar, karena berpikir kreatif ketika bisnis tidak hanya saat merumuskan produk yang akan dijual saja, tetapi saat merumuskan strategi bisnis juga.
Strategi bisnis yang dipikirkan dengan baik akan menjadi fondasi bisnis yang cukup kuat dan bisa saja kita menciptakan pasar baru yang justru akan menjadi fenomena, sehingga dari awal konsep Me-tooism bisa berubah menjadi trendsetter baru.
Nah, sekarang apa yang sedang dan mungkin akan menjadi fenomena dalam dunia bisnis? Segera amati, ambil inspirasinya, lalu ubah sesuai karakter dan apa yang ada di ide kreatif kamu. Jangan takut untuk menuangkan pemikiran – pemikiran nyelenehmu. Sebab bisa jadi itu ide kreatif yang belum pernah ada. Orang lain bisa saja menganggap remeh dan memandang sebelah mata dari ide nyelenehmu dalam berbisnis, tapi biarkan hasilnya nanti yang berbicara. Jadi, apa kamu masih pengikut konsep “Me Tooism” atau “Me ‘Creative’ Tooism”?