Pernahkah kamu berpikir ingin menjadi orang lain? Menjalani kehidupannya atau sekedar mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang lain? Beberapa dari kita mungkin menginginkan hal tersebut. Dan Virtual Reality adalah salah satu ‘alat’ yang dapat mengabulkan hal tersebut.
Lho, bukannya konsep dasar Virtual Reality (VR) didasarkan pada teori-teori tentang keinginan manusia untuk lolos dari batas-batas dunia nyata dengan merangkul dunia maya? Ya, memang seperti itulah konsep dasar VR. Tetapi, pernyataan sebelumnya tidak sepenuhnya salah, kok. Seperti yang dilansir oleh Psychology Today, bahwa semua orang mengasumsikan ‘realitas’ sebagai ‘dunia nyata’ mereka dan realitas lainnya adalah ‘virtual’ bagi mereka. Ini berarti bahwa realitas satu orang bisa menjadi virtual bagi orang lainnya dan sebaliknya.
Dengan konsep tersebut, VR memberi para marketer kesempatan agar konsumen merasakan pengalaman paling dekat yang bisa mereka dapatkan dari produk, layanan atau tempat tanpa benar-benar secara fisik berada di sana. Dan berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan marketer dalam pemanfaatan teknologi VR.
1. Pengalaman Menggunakan Produk
Tidak ada alasan yang lebih kuat, dibanding alasan yang dirasakan sendiri.
Kamulah yang mengalami dan mengetahui apa yang kamu mau. Lexus NX, mobil yang diproduksi Toyota Motor Corporation, mengawali ide marketing ini dari ungkapan tersebut. Lexus menggunakan teknologi VR untuk test drive, karena membawa pelanggan ke showroom atau melakukan test drive secara langsung sedikit sulit dan memenuhi keinginan pelanggan dengan memilih mobil yang tepat dengan konfigurasi yang tersedia malah lebih sulit lagi. Dan, VR bisa membiarkan mereka mengkonfigurasi mobil untuk kebutuhan mereka dan membawanya untuk test drive pribadi, dari mana saja setiap saat.
2. Pengalaman Event
Memberikan pengalaman VR mendalam bagi pelanggan dalam bentuk event dapat memperdalam keterlibatan brand, jauh melampaui tempat fisik. Red Bull menawarkan pengalaman berada di Red Bull Air Race, sebuah kompetisi internasional yang dibuat Red Bull, sehingga para penggemar dapat mengalami bagaimana rasanya berada di pesawat, tidak hanya sebagai penonton. Seperti pernyataan sebelumnya, bahwa realitas satu orang bisa menjadi virtual bagi orang lainnya dan sebaliknya.
Now, you can experience other people’s experiences.
3. Pengalaman Ritel
Sektor ritel memiliki tantangan tersendiri dalam beradaptasi dengan tren seperti showroom-ing yang berarti konsumen mungkin pergi ke tempat lain untuk melakukan pembelian. Jadi mengapa tidak melangkah lebih jauh dengan memberikan sebuah dunia ritel yang dapat dieksplorasi di VR? Seperti yang dilakukan Ted Baker dengan menambahkan teater dan talkability untuk pembukaan toko Regent Street dengan menawarkan pengalaman VR melalui cardboard.
Ketika batas garis di antara dunia nyata dan dunia virtual semakin tipis, VR memberikan kesempatan kepada para marketer untuk meningkatkan “engagement” yang lebih mendalam dengan pengguna. Jadi, apakah kamu berminat menggunakan VR untuk brand-mu?