Saat kita sedang bersantai di kamar dan melihat-lihat post teman-teman kita di sosmed tentang tempat-tempat yang lagi happening atau makanan yang sedang marak muncul di insta story teman-teman kita (ya, ayam geprek) pasti kita akan jadi penasaran. Kenapa sih tempat ini lagi populer? Atau memangnya ayam geprek itu seenak itu kah?
Kotler & Keller (2007) mengemukakan bahwa Word of Mouth Communication (WOM) atau komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal. Saluran komunikasi personal word of mouth tidak membutuhkan biaya yang besar karena dengan melalui pelanggan yang puas, rujukan atau referensi terhadap produk hasil produksi perusahaan akan lebih mudah tersebar ke konsumen-konsumen lainnya (Kotler & Keller, 2007).
Strategi pemasaran ini bisa dikatakan sebagai suatu bentuk strategi memasarkan produk yang paling tradisional tapi paling efektif. Kalau kita lihat di jaman sekarang, strategi ini diadaptasi dan diterapkan untuk memasarkan produk lewat social media. Dengan menyebarnya hal-hal yang viral atau dengan diuploadnya post-post berisi rekomendasi dari endorser, informasi sebuah produk bisa lebih cepat untuk disebarkan. Lantas, apakah semudah itu jaman sekarang untuk memasarkan sebuah produk dan apakah produk-produk yang di endorse memang memuaskan konsumen?
Memang, kalau produk yang kita pasarkan memuaskan konsumen pasti akan tersebar informasi-informasi bagus atau Word Of Mouth yang baik tentangnya, baik lewat obrolan atau lewat social media. Tapi, bagaimana kalau produk yang kita pasarkan tidak sesuai dengan ekspektasi konsumen? Word of Mouth yang buruk bisa tersebar dan produk yang dipasarkan tidak akan dikonsumsi atau dibeli lagi. Strategi Word Of Mouth bisa dikatakan ‘pedang bermata dua’.
Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghindari tersebarnya Word of Mouth yang buruk? Di jaman social media seperti sekarang ini, sebaiknya kita lebih memonitor cara kita dan cara endorser kita memasarkan produk. Mulai dari mengiklankan produk secara tidak berlebihan dan sesuai ekspektasi konsumen dan juga memilih endorser yang sesuai dengan soul brand. Kita harus selalu ingat kalau di internet, informasi bisa tersebar dalam hitungan detik dan akan susah untuk dimonitor sehingga, sebagai seorang komunikator atau representasi dari sebuah produk sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam mengkomunikasikan produk atau brand kita ke konsumen.
Sumber :
https://yourbusiness.azcentral.com/impact-negative-word-mouth-9567.html
http://www.pendidikanekonomi.com/2012/07/pengertian-komunikasi-word-of-mouth-wom.html
